View Full Version : SAMAN - Ayu Utami
begawan
July 12, 2003, 07:48
PEREMPUAN PERLU PAHAMI SEKS
"Masyarakat Indonesia itu cukup toleran dalam hal hubungan-hubungan seks di luar pernikahan maupun pelacuran. Namun dalam wacana publik, stereotip-stereotip dan mitos bahwa perempuan harus pasif, dan perawan sebelum nikah masih tetap berlaku. Perempuan, atau anak perempuan diwanti-wanti untuk menjaga keperawanan, tapi apabila perempuan itu tidak kunjung-kunjung mendapatkan suami atau menjadi perawan tua, maka ejekan dan gosip akan melandanya. Jadi posisi perempuan menjadi serba salah." Demikian Ayu Utami, penulis Novel Saman yang sempat menghebohkan dunia sastra nasional.
Saman, Pastor yang Nyebal, Aktivis Buron
Saman Novel ini bercerita mengenai perjuangan seorang muda bernama Saman, yang dalam perjalanan karirnya sebagai seorang pastor harus menyaksikan penderitaan penduduk desa yang ditindas oleh negara melalui aparat militernya. Saman akhirnya menanggalkan jubah kepastorannya itu, dan menjadi aktivis buron. Sebagai seorang aktivis, Saman mengembangkan hubungan seksual dengan sejumlah perempuan. Ke empat tokoh perempuan dalam novel itu Shakuntala, Laila, Cok, dan Yasmin, merupakan empat sekawan. Mereka muda, berpendidikan, dan berkarir. Sebagai layaknya sahabat, mereka saling bertukar cerita mengenai pengalaman-pengalaman cinta, keresahan dan pertanyaan-pertanyaan mereka dalam meredifinisikan seksualitas perempuan.
begawan
July 12, 2003, 07:50
Kontroversial
Kemunculan Saman menjelang saat-saat
Kontroversial karena berani
jatuhnya rejim Soeharto pada tahun 1998, sempat menghebohkan dunia sastra Indonesia karena isinya yang dianggap kontroversial, mendobrak berbagai tabu di Indonesia baik mengenai represi politik, intoleransi beragama, dan seksualitas perempuan. Ada pihak-pihak yang mengeritik novel tersebut karena dianggap terlalu berani dan panas dalam membicarakan persoalan seks. Tetapi banyak pula yang memujinya karena penggambaran isi novel tersebut apa adanya, polos, tanpa kepura-puraan.
Penghargaan
Di tengah kontroverse itu, Saman berhasil menggaet penghargaan Dewan Kesenian Jakarta. Tahun 2000, Novel yang sama mendapatkan penghargaan bergengsi dari negeri Belanda yaitu Penghargaan Prins Claus, suatu penghargaan yang diberikan kepada orang-orang dari dunia ketiga yang berprestasi dalam bidang kebudayaan dan pembangunan. Novel tersebut diterjemahkan ke dalam bahasa Belanda dengan judul Samans Missie, yang diluncurkan di Amsterdam pada 9 April 2001 dan dihadiri sendiri oleh Ayu Utami. Menanggapi kesuksesannya itu, putri bungsu dari lima bersaudara ini dengan rendah hati mengatakan bahwa ia tidak pernah mengukur sesuatu dari patokan sukses atau tidak sukses, karena "apalah arti kesuksesan. Yang hari ini dikatakan sukses belum tentu hari esok juga masih dibilang sukses," kata Ayu sambil menikmati koffie verkeerd.
begawan
July 12, 2003, 07:52
Pernah Wartawan
Bagi Ayu Utami (33 tahun), dunia tulis menulis bukanlah hal baru. Sebelum menjadi penulis novel, bekas wartawati ini pernah bekerja di majalah Matra dan Forum. Ia juga menjadi salah satu pendiri Aliansi Jurnalis Independen. Baginya, menulis novel merupakan cara untuk mengeksplorasi bahasa Indonesia, bahasa yang masih muda, yang kurang mungkin dilakukannya sebagai wartawan. Seorang wartawan dituntut untuk memperhitungkan publik baik latar belakang, pengetahuan, maupun tingkat emosionalnya. Di tambah lagi, wartawan tidak bisa keluar dari fakta yang menurut Ayu, dilematis. Jadi sulit untuk bisa mengembangkan bahasa yang eksploratif sebagai wartawan.
Kebebasan Berpikir
Dalam Novel Saman, penindas yang dihadapi oleh penduduk Sei Kumbang adalah negara dan aparat militernya, yang merupakan cerminan dari rejim orde baru pada waktu novel tersebut ditulis. Musuh masyarakat sama yaitu negara dan militer yang represif. Namun sekarang, sulit untuk mengatakan siapa musuh bersama itu. "Kekerasan sudah bukan monopoli negara lagi yaitu pemerintah dan militer tapi kekerasan itu juga dilakukan oleh masyarakat atau kelompok-kelompok masyarakat", kata Ayu, mencontohkan penyerangan terhadap café-café, kantor pers, dan seminar tentang homoseksualitas yang sampai jatuh korban. Oleh karena itu, penyelesaiaan terhadap hal ini rumit karena yang dibutuhkan adalah pendidikan kebebasan berpikir. Secara formal, Indonesia telah memiliki kebebasan berbicara tapi dalam prakteknya belum ada kebebasan berpikir. Kebebasan berpikir harus dibangun selangkah demi selangkah melalui pendidikan, suatu proses yang panjang.
begawan
July 12, 2003, 07:53
Standar Ganda
Ayu tidak suka menggunakan kata ‘hipokrit' dalam menggambarkan masyarakat Indonesia kalau berbicara mengenai perempuan dan seks. Ia lebih cenderung menggunakan ‘standar ganda', karena menurutnya "masyarakat Indonesia itu cukup toleran dalam hal hubungan-hubungan seks di luar pernikahan maupun pelacuran. Namun dalam wacana publik, stereotip-stereotip dan mitos bahwa perempuan harus pasif, dan tetap perawan sebelum nikah masih tetap berlaku. Perempuan, atau anak perempuan diwanti-wanti untuk menjaga keperawanan, tapi apabila perempuan itu tidak kunjung-kunjung mendapatkan suami atau menjadi perawan tua, maka ejekan dan gosip akan melandanya. Jadi posisi perempuan menjadi serba salah".
Perempuan Perlu Memahami Seks
Sekarang ini, isu seks sudah bukan monopoli majalah-majalah pria saja. Banyak majalah wanita yang memuat masalah tersebut. Hampir semua media baik cetak maupun elektronik memiliki rubrik khusus mengenai seks. Suatu perkembangan yang positip menurut Ayu, ‘karena perempuan sudah mulai berani membicarakan seksualitasnya. Ini perlu karena secara biologis perempuan lebih banyak dirugikan dalam hubungan persanggamaan ketimbang laki-laki, misalnya resiko hamil dan tidak gampangnya perempuan mencapai kepuasan dalam berhubungan seks. Ayu tidak khawatir bahwa dieksploitasinya seks, atau lebih tepatnya teknik-teknik seks oleh media masa itu, justru akan merugikan perempuan nantinya. "Pembicaraan teknik seks tidak akan menyelesaikan masalah dalam hubungan pria-perempuan, tapi itu tidak berarti buruk. Justru apabila seks itu dibicarakan dari kaca mata perempuan, hal itu memungkinkan perempuan untuk menjadi subyek dan bukan obyek seks." Bagi Ayu, ketidak seimbangan dalam relasi jender harus diselesaikan dengan cara lain misalnya melalui pendidikan keluarga.
Remaja dan Seks Bebas
Menurut Ayu, istilah seks bebas yang banyak digunakan media dalam menggambarkan hubungan seks kaum remaja saat ini, bukan istilah yang tepat. Seks bebas hanya diterjemahkan secara sempit terhadap orang-orang yang melakukan hubungan seks sebelum menikah. "Padahal orang-orang yang sudah menikah pun banyak melakukan hubungan seks di luar pernikahan. Apa yang dilakukan para remaja itu tidak lebih buruk dan berbeda dari yang dilakukan para bapak dan ibu yang sudah menikah." Persoalannya hanya terletak pada pasangan tetap saja. Justru, demikian Ayu, seks di kalangan remaja harus mendapat perhatian yang lebih banyak karena banyak dari remaja yang tidak tahu mengenai resiko-resiko yang mereka hadapi, terutama bagi anak perempuan. Sebaiknya informasi-informasi mengenai seks seperti Keluarga Berencana (KB) juga diberikan kepada remaja. Tanpa adanya pendidikan dan informasi yang benar, justru akan sangat merugikan remaja karena rasa keingin tahuan akan menyebabkan mereka mencari informasi itu baik dari teman seusia yang sama-sama tidak memahami, dari buku-buku, majalah, maupun film porno yang banyak beredar. Sedangkan informasi di dalamnya belum tentu benar. "Bahkan buku-buku atau film porno itu hanya merangsang sensasi-sensasi tubuh, bukan suatu informasi yang baik untuk suatu hubungan yang bertanggung jawab," demikian kata penulis yang tidak mau digolongkan sebagai penulis feminis ini. Yang penting baginya, ia berkarya dengan semangat membela perempuan.
Alo3^VoMo3rA^-
July 12, 2003, 07:53
waks
begawan
July 12, 2003, 07:55
MENJELANG magrib di Utan Kayu. Tangan novelis Ayu Utami membuka dokumen-dokumen surat dari penggemarnya yang dikliping rapi dalam sebuah map. Dia mengambil kartu pos bergambar. Ia menulis, dan sret ... sret menekennya.
"Gue cuma mo kasih tau," ujarnya. Ayu memang hendak mengabarkan kepada para penggemarnya tentang novel terbarunya, Larung, yang beredar mulai minggu pertama November 2001.
Larung membawa kesibukan baru bagi Ayu. Hari ini konferensi pers, besok peluncuran perdana, lusa temu publik. Praktis, sejak akhir Oktober 2001, Ayu Utami sering tak terlihat mampir di Kedai Tempo yang berjarak kurang lebih 10 meter dari kantornya di jurnal kebudayaan Kalam, sekadar untuk menyantap mi rebus atau soto panas-panas dengan cabai melebihi porsi seumumnya.
Ayu Utami bukan nama anonim dalam jagat sastra Indonesia ini hari. Tiga tahun lalu, ia memulai debutnya dengan merilis Saman, yang memenangi Sayembara Roman Dewan Kesenian Jakarta pada 1998.
Tahun itu pula Kepustakaan Populer Gramedia mendatangi Ayu dan menawarkan royalti 10 persen. Ayu setuju. Saman dicetak tiga ribu eksemplar. Sambutan publik sungguh luar biasa. Saman dilahap pasar dalam waktu singkat. Fenomena ini membuat banyak empu sastra tercengang. Sebagian malah menyangsikan Saman lahir dari tangan Ayu.
begawan
July 12, 2003, 07:57
Kini, Saman memasuki edisi ke-18, dengan oplah mencapai 55 ribu eksemplar. Ayu layak berbangga hati. Selain royaltinya diperbarui sejak edisi kedua menjadi 12,5 persen, Saman pun berhasil menyabet Prince Claus Award dari Belanda karena dianggap meluaskan kaki langit sastra Indonesia.
Semula Saman dan Larung sebuah kesatuan dalam novel Laila tak Mampir di New York. Tapi beberapa subplot rupanya mengalami perkembangan sedemikian rupa sehingga Ayu memutuskan menyulapnya jadi dwilogi yang independen. Sebagai dwilogi, Larung menghadirkan empat tokoh perempuan seperti juga dalam Saman: Cok, Laila, Shakuntala, dan Yasmin.
Dalam Larung, tokoh lelaki yang menonjol tak hanya Saman, tapi juga Larung–sosok manusia dengan riwayat hidup yang musykil buat kebanyakan orang, dengan kecerdasan di atas rata-rata, dengan schizophrenia yang membelenggu akal sehatnya. Larung digambarkan sebagai manusia dengan banyak luka sejarah; luka yang muncul akibat peristiwa-peristiwa politik yang dialaminya, luka karena status dirinya yang tak jelas, luka karena punya nenek penyihir yang susah mati sehingga Larung sendirilah yang harus membunuhnya.
Masih dicetak penerbit yang lama, bekerja sama dengan jurnal kebudayaan Kalam, tempatnya bekerja, edisi perdana Larung langsung digeber dengan oplah 20 ribu eksemplar. Hingga pekan awal November 2001, separuh lebih oplah novel seharga Rp 30 ribu ini sudah dipesan oleh toko buku, agen, pengecer, dan perorangan.
Alo3^VoMo3rA^-
July 12, 2003, 07:57
beng ini buku ama buku geisha bagusan mana?
begawan
July 12, 2003, 07:58
Berbeda dengan Saman yang menampilkan ilustrasi grafis, sampul Larung dipajangi sebuah foto buram ombak laut pantai Parangtritis di Yogyakarta. Objek ini jepretan fotografer Erik Prasetya, sekaligus teman dekat Ayu. "Semua foto yang diambil fokus. Iseng-iseng saya mengambil satu yang nggak fokus," ujar Prasetya menunjuk poster Larung di depannya ketika berlangsung acara pembacaan Larung di Galeri I See, Jakarta, awal November 2001.
Novel setebal 268 halaman ini dibagi ke dalam tiga bagian. Bagian pertama dan kedua, lebih ke perkenalan tokoh Larung dengan teknik penceritaan 'aku-naratif.' Baru pada bagian ketiga, Ayu memilih 'dia-naratif' untuk menggabungkan karakter-karakter yang muncul di bagian awal.
Buat mereka yang baru mengeja sastra, teknik bercerita semacam itu mungkin tak akan dapat menjadi kendaraan yang efektif dalam mengantarkan simbol-simbol yang hendak diperkatakan pengarang. Bukan tak mungkin, orang merasa sedang diceramahi–kalau bukan sedang menyimak keluh-kesah. Beruntung Larung tak terjebak ke dalam permutasi-permutasi yang tak perlu. Dalam kesublimannya, Ayu mengendalikan alur cerita dengan kata-kata, yang menurut ketua redaktur Kalam Nirwan Dewanto, "efisien."
Novel ini diolah dari mitologi leak dan Calon Arang. Pada beberapa bagian, tak ubahnya seperti outlet dari begitu beragamnya bentuk-bentuk kesintingan, tak terkecuali kesintingan dalam domain seks dan sensualitas. Perhatikan misalnya, bagaimana karakter Shakuntala mengenalkan diri: "Jika aku berputar terus dan berputar lebih kencang, maka sosok-sosok lain akan berlepasan dari diriku. Dua, lalu tiga, lalu empat, lalu banyak, dengan kelaminnya masing-masing, tidak laki tidak perempuan, bentuk-bentuk yang tak pernah dikenal orangtuaku dan segala ayah ibu. Seperti bunga-bunga yang kuncup, menjengat, rekah, lembut, kasar. Tetapi aku tak bisa berputar lebih cepat daripada itu. Aku belum bisa."
begawan
July 12, 2003, 07:58
Jangan salah duga, Larung bukan novel yang berangkat dari psikoanalisis yang hendak menguliti relung-relung perilaku manusia dan berakhir dengan pamer istilah keilmuan. Ini novel kaya tema, yang melansir pergulatan batin tokoh-tokohnya, mitologi, kesejarahan, keadaan sosial-politik berikut segala kebebalan dan kebiadabannya.
Dalam tema yang disebut terakhir tadi, ada dua setting yang diambil Larung. Yakni, peristiwa pembantaian massal terhadap mereka yang dituduh punya kaitan dengan Partai Komunis Indonesia (1965-1966) dan peristiwa penyerbuan kantor Partai Demokrasi Indonesia yang dikuasai pendukung Megawati Soekarnoputri yang dikenal dengan Peristiwa 27 Juli 1996. Jika pembantaian massal menandai berdirinya Orde Baru, penyerbuan kantor partai politik itu menandai awal hancurnya Orde Baru di bawah rezim Presiden Soeharto. Tanpa berpretensi hendak mengungkap lika-liku sejarah, di antara kedua peristiwa tersebut, Ayu memompakan kegetiran-kegetiran yang dialami kaum muda dalam menghadapi kekuasaan yang memuakkan.
Kekayaan tema tak datang dari langit ketujuh. Selama tiga tahun proses penulisan Larung, Ayu Utami membanting-tulang dalam riset ke berbagai tempat. Di antaranya ke bagian forensik Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta, untuk melihat anatomi tubuh. Ke Museum Zoologi, Bogor, untuk menghapal binatang, juga tumbuhan. Ke Pulau Bintan untuk memotret situasi tempat pelarian para aktivis. Ke Tulungagung untuk mendengar cerita-cerita mengenai ilmu hitam. Juga ke Kediri, situs bekas kerajaan Kediri dan Jenggala tempat raja Erlangga bertahta, demi menangkap mitos-mitos berkembang di situ.
begawan
July 12, 2003, 07:59
Berapa biaya yang dikeluarkan untuk riset sebanyak ini?
"Nggaklah. Gue nggak ngitung karena kan sambil sekalian jalan-jalan," kata Ayu. Sebelum memutuskan menulis novel, Ayu Utami bekerja sebagai wartawan buat majalah Matra dan Forum Keadilan.
Sebenarnya, masih ada riset lain yang dikerjakan Ayu untuk bahan karangan yang bertutur tentang tarian tango sepanjang kurang dari sejengkal. Ia mendatangi H.M. Damsyik, seorang selebritas yang memerankan tokoh Datuk Maringgi dalam sinetron terkenal Siti Nurbaya. Ayu pun kursus selama dua bulan di sana, dengan merogoh kocek Rp 750 ribu per bulannya. Namun, dalam acara-acara promosi novelnya, Ayu Utami tampaknya belum berani memamerkan hasil latihannya bertango. ***
begawan
July 12, 2003, 08:04
Jangan bingung dulu dengan istilah ”Sastra Wangi”. Ini bukan genre baru dalam sastra melainkan sebuah istilah untuk mengomentari kemunculan perempuan sastrawan yang ”cantik dan wangi” dan mendapat perhatian luas di media massa. Banyak orang beranggapan keberhasilan karya-karya yang dihasilkan para sastrawan wangi ini bukan karena kualitas karya, tetapi lebih pada sosok pengarangnya.
Terhadap istilah ”sastra wangi” ini, Ayu Utami—salah satu yang digolongkan ke dalamnya—hanya menanggapi dengan senyum. Perempuan penulis yang telah menghasilkan dua novel laris, Saman dan Larung, ini menganggap fenomena sastra wangi itu hal yang sah.
”Penulis menggunakan peluang itu agar karyanya dapat dikenal. Itu wajar,” ujar penulis yang aktif di Komunitas Utan Kayu itu.
Entah bergurau atau malah serius, Ayu mengatakan. ”Gini, jangankan penulis, binatang pun menggunakan bau-bauan agar dikenal kan,” ujarnya. Namun, hal itu akan menjadi masalah ketika si tokoh hanya menggunakan novel untuk membesarkan namanya.
”Ini bahkan terjadi di seni lukis, bukan di sastra,” ujar Ayu Utami. Tanpa menyebutkan namanya, dia pernah melihat seniman perempuan pelukis potret yang melukis para tokoh-tokoh politik dan menjualnya dengan harga yang teramat mahal. Padahal, dilihat Ayu, perempuan pelukis Indonesia itu dilihatnya punya kemampuan yang terbatas. Jadi dia memasuki seni untuk membesarkan bisnisnya yang lain.
Ayu bahkan sempat mengungkapkan kegelisahannya pada novelnya yang berjudul Saman. Dia katakan bahwa orang malah sibuk bicara tentang dirinya ketimbang berbicara karyanya. ”Orang juga lebih senang membicarakan gosip saya daripada bukunya. Terus saya harus ngapain? Saya sudah kritik itu,” ujarnya dengan suara yang sangat gelisah
begawan
July 12, 2003, 08:06
Originally posted by Alo3^VoMo3rA^-
beng ini buku ama buku geisha bagusan mana?
walah, 2 ini kok diperbadingkan seh :hehe
masing2 punya kekuatan kok
yg satu jepang yg satu indonesia
beli 2-nya aja :D
gue udah baca dua-duanya...
sama bagusnya..:)
wongkito
July 13, 2003, 09:19
Masih adakah nasihat yg murni? Ayu juga ngomong begitu-begini demi bisnisnya kan? Sama kayak Rhoma yg pura-pura bersih karena tersaing. Sama kayak Inul yg pura-pura lugu demi mendapatkan simpati :P
begawan
July 13, 2003, 15:59
ha? maksudnya apaan?
wongkito
July 14, 2003, 01:45
Maksudnya suatu idealisme yg kecampur bisnis cenderung nggak murni. Gitu, lho. :)
pete_bhakar
July 18, 2003, 18:17
yoi. mengatas-namakan idealisme untuk jualan.
begawan
July 19, 2003, 07:16
Originally posted by wongkito
Masih adakah nasihat yg murni? Ayu juga ngomong begitu-begini demi bisnisnya kan? Sama kayak Rhoma yg pura-pura bersih karena tersaing. Sama kayak Inul yg pura-pura lugu demi mendapatkan simpati :P
oh, ayu emang bisnis apa sampe bikin novel sedemikian rupa??
kalo mo ngejar oplah, menidng bikin buku kayak fira basuki atau dee, knapa harus bikin riset yg mengerikan gitu, bertaon2 pulak
ilalang
July 20, 2003, 21:06
baca dua2nya..
tp knp mnrt g saman yg lebih terasa pengaruhnya ya?
(mana inget 2 kalimat terakhirnya lagih[bisik] )
begawan
July 21, 2003, 08:33
hush...:hehe
pete_bhakar
July 22, 2003, 17:14
Originally posted by begawan
oh, ayu emang bisnis apa sampe bikin novel sedemikian rupa??
kalo mo ngejar oplah, menidng bikin buku kayak fira basuki atau dee, knapa harus bikin riset yg mengerikan gitu, bertaon2 pulak
ngejar oplah kan gak harus dengan gaya fira ato dee. masing2 punya hak dan cara sendiri untuk ngebut omset. :D
begawan
July 23, 2003, 06:52
justru kalo org mikir bisnis bukan seperti cara ayu tuh kalo mo nyari oplah
kayak org bikin lagu, apa iya lagunya chery bombshel lebih laku dari S07???
padahal tu lagu sama2 bagus, bedanya CBS lebih berat nggak easy listening kayak S07
apa ayu mau berspekulasi bikin novel yg butuh riset dan bikin org baca keningnya berkerut2
pete_bhakar
July 26, 2003, 04:16
gak bisa bilang gitu dong. masing2 kan ada "cult"nya sendiri. musik rock yah ada penggemar rock nya, musik jazz yah ada penggemar jazz nya. music pop banyakan target untuk yg lebih mainstream.
Misal Kho Ping Hoo mo ngejer oplah, masa lantas disuruh nulis roman remaja modern? kan gak mungkin. dia cuman bisa ngejar omset di "lingkungan" dia dong.
begawan
July 26, 2003, 08:38
kan topiknya mengejar oplah
apa jazz bisa terjual 1 juta kopi kalo dia tetap main di jazz standart?
buktinya saharani tu masih miskin
pete_bhakar
July 27, 2003, 08:17
makanya, harus lebih kreatip dalam promosi dagangannya! :D
shella
July 28, 2003, 07:27
Wan, emang saman cover-nya kaya gitu?
kok gue punya covernya beda ya? :bingung:
begawan
July 28, 2003, 08:43
itu khusus untuk luar negeri :D
pete_bhakar
July 28, 2003, 12:45
gua suka avatarnya shella. itu dari komik bukan?
shella
August 12, 2003, 09:15
pete bhakar... avatar gue yg sebelumnya ya?? bukan dari komik kok, di design sama anak WG juga ;)
begawan... ohh itu yg buat di LN toh... emang udah ke negara mana aja?
begawan
August 14, 2003, 08:33
tau, kalo gak salah inggris pa blanda
kan pernah dapat penghargaan prince clouse award gitu deh
vBulletin® v3.8.2, Copyright ©2000-2009, Jelsoft Enterprises Ltd.