platinum
June 03, 2004, 02:32
Empat Siswi Dipecat dari Sekolah
Masuk Perangkap Jaringan Seks ABG
Setiabudi, Warta Kota
Akhirnya empat siswi SLTP di bilangan Setiabudi Jakarta Selatan yang nyambi menjadi jaringan pekerja seks ABG di pecat dari sekolahnya.
Herman, Kepala Sekolah SLTP di bilangan Setibudi yang ditemui di rumahnya kemarin membenarkan bahwa para siswinya yang ketahuan berpraktik sebagai pekerja seks di bawah asuhan germo Ny Arum telah dikeluarkan.
Sebenarnya, kata Herman, dia merasa kasihan kepada keempat anak didiknya itu karena telah terbujuk rayu sang germo. Dia juga mengaku geram pada germo yang menghancurkan masa depan pelajar yang masih duduk di kelas satu dan dua itu.
Sejumlah orang tua murid yang kebetulan datang ke sekolah SMP itu kepada Warta Kota mengungkapkan nada yang sama. Mereka menyatakan sangat prihatin atas kejadian yang menimpa pelajar-pelajar yang masih bau kencur tersebut. "Saya selalu was-was sama anak saya, makanya kalau ia pulang terlambat cepat-cepat saya cari sendiri. Atas kejadian ini mudah-mudahan para orang tua murid lebih berhati-hati lagi dan meningkatkan perhatiannya pada anak- anaknya," ujar seorang pria.
Sementara beberapa wanita orangtua murid bahkan belum mendengar kalau di sekolah itu sedang heboh jual-beli seks. "Kami baru dengar sekarang", kata seorang ibu yang langsung ditimpali wanita lain. "Makanya baca koran, jangan nonton dangdut terus di teve" ujarnya berseloroh.
Herman yang wanti-wanti jangan sampai nama sekolahnya disebut menambahkan, pihak sekolah sudah mencurigai tingkah laku keempat siswi itu. Mereka berasal dari kelas satu tiga orang dan kelas dua satu anak. "Pada hari- hari tertentu siswi-siswi itu tidak masuk sekolah, lalu seorang guru pembimbing memanggil mereka" ujar Herman. Selain itu kecurigaan guru pembimbing antara lain nilai anak-anak didik itu merosot tajam.
Dengan pendekatan yang baik selayaknya anak dengan ayah/guru, akhirnya keempat siswi itu mengaku terus terang telah menjadi pekerja seks dengan pria- pria hidung belang saat di luar sekolah. Kepala Sekolah itu menambahkan, keempat pelajar SMP itu berasal dari keluarga yang relatif kurang mampu hingga mudah tergiur iming-iming uang dan barang mewah.
Menurut pengakuan para siswa itu, mereka tergiur rayuan Rn, mantan siswi sekolah yang sama. Rn dikeluarkan dari sekolah lantaran banyak aturan sekolah yang dilanggar, bukan karena menjajakan seks. Mantan siswi ini belakangan bergabung dengan germo Ny Arum yang kini mendekam di kantor polisi. Anak- anak yang masih ingusan ini dijanjikan akan mendapatkan uang banyak dan bisa memiliki telepon genggam. Dengan mudah para siswi kelas satu dan kelas dua SMP itu menyanggupinya.
Kepada guru pembimbing, siswi yang berinisial Ros, Yus dan Sif ketiganya kelas satu SMP dan SZ kelas dua SMP mengaku keperawannya dijual Rp 1 juta. Kata Herman, yang membuat hati para guru bagai tersayat sembilu manusia yang tega merenggut keperawanan para korban kebuasan seks itu pria yang usianya sepantar salah seorang guru mereka sekitar 55 tahun.
Dari "penjualan" keperawanan yang besarnya Rp 1 juta itu ternyata hanya Rp 700.000 diterima oleh para siswi itu, selebihnya untuk germo dan perantaranya. Anak-anak yang masih polos itu dengan terus terang mengaku sudah diajak kencan masing-masing empat sampai lima kali. Sekali kencam mereka, sekarang diberi uang antara Rp 100.000 sampai Rp 200.000.
Sementara itu beberapa warga dan orang tua yang sudah lama mencium praktik prostitusi ABG menduga, aksi itu dilakukan sudah lama.
"Saya kira sudah berbulan-bulan dilakukan, melihat mereka sudah lama nongkrong di salah satu sudut sekitar 400 meter dari sekolah ini" ujar sumber itu. Namun warga itu juga menyatakan keprihatiannya atas fenomena yang menimpa para murid SMP itu.
Sekolah yang dijadikan incaran germo dan para hidung belang itu memang siswanya berasal dari kalangan bawah. Menurut catatan di sekolah itu jumlah siswa-siswinya ada 870. Lokasi sekolah itu agak masuk ke pemukiman.
Untuk bisa berhubungan dengan para siswa yang sudah mengenal hubungan seks dengan lawan jenis itu cukup mudah. Seusai jam sekolah germo menghubungi anak-anak itu. Setelah ada kesepakatan germo yang mengutus perantara menemui di tempat-tempat tertentu. Seperti diceritakan para guru, memang anak-anak yang bermasalah itu tidak pernah kelihatan membawa HP ke sekolah. Ternyata hanya kamuflase menyembunyikan kegiatan yang sebenarnya. Uang yang didapat dari para hidung belang sebagian diberikan kepada orang tuanya dan sebagian lagi untuk memenuhi kebutuhan sendiri termasuk membeli telepon genggam. (m3/yos)
Masuk Perangkap Jaringan Seks ABG
Setiabudi, Warta Kota
Akhirnya empat siswi SLTP di bilangan Setiabudi Jakarta Selatan yang nyambi menjadi jaringan pekerja seks ABG di pecat dari sekolahnya.
Herman, Kepala Sekolah SLTP di bilangan Setibudi yang ditemui di rumahnya kemarin membenarkan bahwa para siswinya yang ketahuan berpraktik sebagai pekerja seks di bawah asuhan germo Ny Arum telah dikeluarkan.
Sebenarnya, kata Herman, dia merasa kasihan kepada keempat anak didiknya itu karena telah terbujuk rayu sang germo. Dia juga mengaku geram pada germo yang menghancurkan masa depan pelajar yang masih duduk di kelas satu dan dua itu.
Sejumlah orang tua murid yang kebetulan datang ke sekolah SMP itu kepada Warta Kota mengungkapkan nada yang sama. Mereka menyatakan sangat prihatin atas kejadian yang menimpa pelajar-pelajar yang masih bau kencur tersebut. "Saya selalu was-was sama anak saya, makanya kalau ia pulang terlambat cepat-cepat saya cari sendiri. Atas kejadian ini mudah-mudahan para orang tua murid lebih berhati-hati lagi dan meningkatkan perhatiannya pada anak- anaknya," ujar seorang pria.
Sementara beberapa wanita orangtua murid bahkan belum mendengar kalau di sekolah itu sedang heboh jual-beli seks. "Kami baru dengar sekarang", kata seorang ibu yang langsung ditimpali wanita lain. "Makanya baca koran, jangan nonton dangdut terus di teve" ujarnya berseloroh.
Herman yang wanti-wanti jangan sampai nama sekolahnya disebut menambahkan, pihak sekolah sudah mencurigai tingkah laku keempat siswi itu. Mereka berasal dari kelas satu tiga orang dan kelas dua satu anak. "Pada hari- hari tertentu siswi-siswi itu tidak masuk sekolah, lalu seorang guru pembimbing memanggil mereka" ujar Herman. Selain itu kecurigaan guru pembimbing antara lain nilai anak-anak didik itu merosot tajam.
Dengan pendekatan yang baik selayaknya anak dengan ayah/guru, akhirnya keempat siswi itu mengaku terus terang telah menjadi pekerja seks dengan pria- pria hidung belang saat di luar sekolah. Kepala Sekolah itu menambahkan, keempat pelajar SMP itu berasal dari keluarga yang relatif kurang mampu hingga mudah tergiur iming-iming uang dan barang mewah.
Menurut pengakuan para siswa itu, mereka tergiur rayuan Rn, mantan siswi sekolah yang sama. Rn dikeluarkan dari sekolah lantaran banyak aturan sekolah yang dilanggar, bukan karena menjajakan seks. Mantan siswi ini belakangan bergabung dengan germo Ny Arum yang kini mendekam di kantor polisi. Anak- anak yang masih ingusan ini dijanjikan akan mendapatkan uang banyak dan bisa memiliki telepon genggam. Dengan mudah para siswi kelas satu dan kelas dua SMP itu menyanggupinya.
Kepada guru pembimbing, siswi yang berinisial Ros, Yus dan Sif ketiganya kelas satu SMP dan SZ kelas dua SMP mengaku keperawannya dijual Rp 1 juta. Kata Herman, yang membuat hati para guru bagai tersayat sembilu manusia yang tega merenggut keperawanan para korban kebuasan seks itu pria yang usianya sepantar salah seorang guru mereka sekitar 55 tahun.
Dari "penjualan" keperawanan yang besarnya Rp 1 juta itu ternyata hanya Rp 700.000 diterima oleh para siswi itu, selebihnya untuk germo dan perantaranya. Anak-anak yang masih polos itu dengan terus terang mengaku sudah diajak kencan masing-masing empat sampai lima kali. Sekali kencam mereka, sekarang diberi uang antara Rp 100.000 sampai Rp 200.000.
Sementara itu beberapa warga dan orang tua yang sudah lama mencium praktik prostitusi ABG menduga, aksi itu dilakukan sudah lama.
"Saya kira sudah berbulan-bulan dilakukan, melihat mereka sudah lama nongkrong di salah satu sudut sekitar 400 meter dari sekolah ini" ujar sumber itu. Namun warga itu juga menyatakan keprihatiannya atas fenomena yang menimpa para murid SMP itu.
Sekolah yang dijadikan incaran germo dan para hidung belang itu memang siswanya berasal dari kalangan bawah. Menurut catatan di sekolah itu jumlah siswa-siswinya ada 870. Lokasi sekolah itu agak masuk ke pemukiman.
Untuk bisa berhubungan dengan para siswa yang sudah mengenal hubungan seks dengan lawan jenis itu cukup mudah. Seusai jam sekolah germo menghubungi anak-anak itu. Setelah ada kesepakatan germo yang mengutus perantara menemui di tempat-tempat tertentu. Seperti diceritakan para guru, memang anak-anak yang bermasalah itu tidak pernah kelihatan membawa HP ke sekolah. Ternyata hanya kamuflase menyembunyikan kegiatan yang sebenarnya. Uang yang didapat dari para hidung belang sebagian diberikan kepada orang tuanya dan sebagian lagi untuk memenuhi kebutuhan sendiri termasuk membeli telepon genggam. (m3/yos)